Minggu, 08 November 2009

Apa yg terjadi di era globalisasi ?

Semangat para pahlawan kita, bisa kita wujudkan melalui Belajar dengan giat untuk meraih prestasi, Dan jauh dari pergaulan bebas(narkoba, dan seks kaulah muda ..
Generasi muda sekarang harus merealisasikan perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan kita pada waktu itu , dan para pahlawan mengharapkan kita sebagai generasi muda, agar kita memerdekakan diri sendiri untuk menyongsong era globalisasi dengan rajin blajar, meraih prestasi , dan jauh dari narkoba..

Merdeka pada diri sendiri yg kami maksud disini bukan lah egois, atau mementingkan diri sendiri, namun artinya adalah mendisiplinkan diri sendiri.
Orang yg dapat mendisiplinkan dirinya adalah orang yg sangat menghargai perjuangan para pahlawan,
Layaknya para pahlawan yg tak kenal lelah, kita pun sebagai generasi muda penerus bangsa haruslah tak kenal lelah dalam meraih prestasi,
tidak perlu lagi kita mengangkat bambu runcing sebagai senjata kita, namun kita sebagai penerus bangsa harus mengangkat prestasi kita sebagai senjata kita dimasa yang akan datang ..
kita haruslah menjadi pahlawan bagi diri sendiri dan bagi bangsa di era globalisasi ..


Perubahan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia karena dampak globalisasi kemajuan teknologi diberbagai bidang seperti komunikasi, informasi, dsb.. sangat berpengaruh terhadap aspek sosial yang mencakup tata nilai dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Produk-produk ilmu pengetahuan dan teknologi yang masuk dari luar akan membawa nilai-nilai tertentu yang secara langsung atau tidak akan bersinggungan dengan nilai-nilai yang sudah ada yang pada akhirnya akan mempengaruhi dan merubah tata nilai yang sudah menjadi identitas maupun pedoman kehidupan bangsa Indonesia.

Indonesia adalah sebuah negara yang luas dan kaya akan sumber daya alam. Tidak mudah membangun Indonesia dengan ribuan pulau dan jutaan penduduknya yang sebagian besar masih rendah dalam tingkat pendidikan ataupun penghasilan. Terlebih lagi, bila masyarakat dan pemerintah tidak saling mempercayai dan tidak saling mendukung dalam proses pembangunan bangsa. Untuk mengubah dan membawa Indonesia menuju negara yang berkembang baik dalam pola pikir maupun kesejahteraan rakyat adalah sebuah pekerjaan yang tidak mudah dan tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat. Ada begitu banyak aspek yang harus diperbaiki dan dari sekian banyak aspek tersebut, ada dua hal yang pantas dikedepankan yaitu pendidikan dan nasionalisme.


NEGARA tanpa pahlawan sama artinya negara tanpa kebanggaan. Jika sebuah negara tak memiliki tokoh yang bisa dibanggakan, negeri itu miskin harga diri. Ia bahkan bisa menjadi bangsa kelas teri. Karena itu, setiap negara mestinya memiliki tokoh yang disebut pahlawan.


Pahlawan menjadi penting karena ia memberi inspirasi. Inspirasi untuk selalu memperbaiki kondisi negeri. Inspirasi agar bangsa ini terus bangkit. Dan, bangsa ini sesungguhnya mempunyai amat banyak orang yang memberi inspirasi itu.


Persoalannya, apakah kita mampu ‘mengambil’ inspirasi dan kemudian secara terus-menerus mempunyai spirit untuk memperbaiki bangsa ini?


Karena itu, memperingati Hari Pahlawan seperti pada hari ini merupakan saat tepat untuk evaluasi ulang pemahaman kita akan arti pahlawan. Jika tidak, ia hanya akan menjadi seremoni hampa makna, tak membuat perubahan apa pun bagi negara. Negara seperti dibiarkan berjalan menuju bibir jurang.


Setiap generasi memang memiliki persoalan dan tantangannya sendiri. Dulu, musuh utama bangsa ini adalah penjajah. Heroisme untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan pun menjadi pekik yang tidak pernah berhenti disuarakan.



Kini, siapa yang layak menjadi musuh bangsa ini? Musuh besar kita tak lain dan tak bukan adalah korupsi, kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan. Itulah sejumlah masalah utama yang dihadapi negeri ini sekarang.


Korupsi seperti penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Orang justru berlomba-lomba mengeruk uang negara. Dan, itu terjadi di semua level yang menyebar baik di pusat maupun di daerah. Hampir di semua jajaran, baik yudikatif, legislatif, maupun eksekutif, terjangkit penyakit korupsi kronis.


Jumlah orang miskin juga seperti tak ada habis-habisnya. Padahal, pembangunan terus dilakukan. Tentu ada yang salah atau tidak beres dalam proses pembangunan kita. Salah dalam tataran perencanaan dan implementasi. Sebab masih amat banyak yang berpikiran bahwa harta negara boleh diambil semau-maunya.


Kini bangsa ini juga mengalami problem amat serius, yakni ketidakpercayaan diri. Sebuah bangsa tanpa kepercayaan diri tidak mungkin bisa menghasilkan produk-produk unggul. Keunggulan hanya bisa diraih jika kita mempunyai kebanggaan akan bangsa dan negerinya sendiri.


Dengan inferioritas ini kita akan sulit bersaing di era global. Sebab globalisasi menuntut keunggulan. Tanpa keunggulan, kita hanya akan menjadi penonton yang bisa berteriak-teriak, tetapi tidak bisa menentukan apa-apa.


Itulah makna heroisme baru yang harus dibangun terus-menerus. Kita tidak ingin jasa para pahlawan dan nilai-nilai luhurnya hanya ada dalam ingatan, tapi terlupakan dalam tindakan.


0 komentar:

Poskan Komentar